About Ke

Foto saya
Mengelola perasaan, meng-nolkan ekspektasi

Kamis, 29 November 2012

Sia - Sia


Entah mengapa hari ini semua terlihat sia-sia...
Dari rencana ke kampus pagi dan perpanjangan STNK Kak Winda yang molor hingga siang, bawa laptop ke LSI dengan niat nongkrong seharian (setengah harian) namun ternyata percuma karena si Toshi masih utuh di posisi tanpa saya apa-apakan, mengingat fasilitas internet gratis yang saya pakai di komputer LSI, dan bawa payung antisipasi hujan namun ternyata tidak digunakan...

Dan lebih herannya, seolah tahu perasaan anaknya, tumben-tumbennya Papa menelepon hanya sekitar 1 menitan, sekedar menanyakan sedang apa dan lagi dimana,,tumben karena biasanya tiap percakapan selalu kami habiskan hampir setengah jam, namun kali ini beda.
Saya yang terlihat tidak bersemangat menjawab panggilan dan Papa yang juga tidak bertanya alasan hanya menyegerakan pembicaraan...
Ah, andai saja bisa,, ingin sekali berkata “Ananda sedang tidak baik-baik saja, Pa...”

Melewati koridor-koridor kampus dan masih terlihat aktivitas dan kesibukan para mahasiswa malam hari.

Ah,  jadi rindu masa-masa itu...
Rindu masa-masa mengejar waktu,,
Pengumpulan tugas, laporan, LPJ organisasi, dan semua hal yang mencirikan aktivitas mahasiswaku.
Tapi saat ini, tanpa ada tugas, tanpa ada laporan, tanpa ada kegiatan,
Hanya dituntut fokus untuk menyelesaikan karya yang akan mengakhiri status mahasiswaku.
Namun tak adanya batas waktu dalam karya ini membuatku terlalu banyak memberi celah toleransi terhadap diri sendiri...

Bahkan aku tak dapat menenggatkan waktu untuk diriku sendiri...

Bahkan tak dapat menciptakan fokusku sendiri...

Maaf,, maaf ku untuk waktu,, yang selalu kusadari telah Aku sia-sia kan...

Sabtu, 31 Desember 2011

Resolusi Tahun Baru


31 Desember 2011
Aku menatap miris pada kalender di depanku. Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2011 dan esok adalah hari baru di tahun berikutnya. Sudah setahun aku melewati hari-hari masih dengan kebingungan. Tak ada perubahan dalam diri dan sesuatu yang kuhasilkan tahun ini. Aku masih gamang menentukan tujuan hidupku. Ingin seperti apa dan bagaimana. Tepat tengah malam setahun lalu, sebelum jarum jam berdentang 12 kali, Aku menuliskan harapan-harapan dan resolusi untuk tahun ini. Salah satunya adalah mengajar dan menerbitkan buku.
Aku memang memiliki cita-cita yang (kata orang-orang) tergolong sederhana : Guru TK dan Penulis. Meski sempat ditertawakan (karena menurut mereka, cita-cita itu harusnya setinggi langit, bukan tugas ‘mulia’ seperti itu) tapi aku yakin dengan keinginanku. Sebab bagiku cita-cita adalah impian yang harus aku gapai dan aku wujudkan. Untuk apa mempunyai cita-cita setinggi langit jika kita tak mampu mencapainya dan malah jatuh pada dasar bumi yang serendah-rendahnya. Itu kalimat ungkapan dan pembelaanku setiap ditanyakan alasan mengapa aku memiliki cita-cita sesederhana itu.