Ini cerita tentang salah satu kunang-kunang lanaiku. Saparuddin nama
aslinya. Tapi lebih dikenal dengan sebutan Latong. Beberapa guru ada
yang memanggilnya Matong. Latong sekarang duduk di kelas 5. Dia salah
satu dari 11 murid yang mengajakku ke Pantai Pasir Putih di awal
kedatanganku dulu. Aku memang tidak pernah bertanya kenapa dia dipanggil
Latong. Tapi dari yang kulihat, Aku sudah mengetahui alasannya.
Latong
berkulit hitam gelap. Bahasa Bugis (masyarakat di Desa sebagian besar
bersuku Bugis)hitam adalah lotong. La lotong disingkat Latong (La
merupakan sebutan panggilan kepada seseorang sebelum nama orang
tersebut). Mungkin itu asal mula nama panggilannya menjadi Latong.
Meskipun
hitam, Latong terlihat manis dengan kedua lesung pipi di wajahnya.
Latong anak yang lucu. Ada-ada saja celetukan ngasalnya yang sering
membuat tertawa. Aku ingat ketika di Pasir Putih dulu, dia berupaya
keras menarik perhatianku dengan celetukan-celetukan aneh yang malah
membuat dirinya sendiri ditertawakan. Dia bahkan berpura-pura tenggelam
ketika itu, lalu muncul kembali ke permukaan dengan senyum malunya
karena tidak ada yang memperhatikan “aksi bohongannya” tersebut. Senyum
malu dengan dua lesung pipi itu semakin membuat dia terlihat manis saja.
Ditambah deretan gigi putih yang kontras dengan warna kulitnya dan mata
yang menyipit ketika sedang tertawa atau senyum.
About Ke
Senin, 19 Juni 2017
Sabtu, 27 Juni 2015
Journey to the Port of My Heart
Pelabuhan
Bitung, 8 Februari 2012
Aku
melangkahkan kaki memasuki gerbang pelabuhan. Bersama keenam orang temanku,
kami akan melakukan perjalanan ke ke Pulau paling timur Indonesia ; Papua,
tepatnya Merauke. Perjalanan ini merupakan bagian dari ekspedisi keanekaragaman
hayati. Kami mahasiswa tingkat akhir yang proposalnya terpilih akan melakukan
penelitian skripsi dibiayai oleh salah satu NGO internasional yang memiliki
program penelitian Wallaby (Mamalia berkantung/Kanguru Lapang) di Taman
Nasional Wasur. Dan aku termasuk salah satu dari ketujuh mahasiswa beruntung itu. Bersama dengan enam
orang lainnya dari universitas yang berbeda, kami memutuskan untuk menempuh
perjalanan laut untuk sampai ke tujuan : Merauke.
Welcome,,back..!
Dan setelah sekian lama,,akhirnya mulai ngeblog lagi...!
Bukan membuat blog baru melainkan mengedit blog lama yang belum pernah dikunjungi...
Bukan membuat blog baru melainkan mengedit blog lama yang belum pernah dikunjungi...
Kamis, 29 November 2012
Sia - Sia
Entah
mengapa hari ini semua terlihat sia-sia...
Dari
rencana ke kampus pagi dan perpanjangan STNK Kak Winda yang molor hingga siang,
bawa laptop ke LSI dengan niat nongkrong seharian (setengah harian) namun
ternyata percuma karena si Toshi masih utuh di posisi tanpa saya apa-apakan,
mengingat fasilitas internet gratis yang saya pakai di komputer LSI, dan bawa
payung antisipasi hujan namun ternyata tidak digunakan...
Dan
lebih herannya, seolah tahu perasaan anaknya, tumben-tumbennya Papa menelepon
hanya sekitar 1 menitan, sekedar menanyakan sedang apa dan lagi dimana,,tumben
karena biasanya tiap percakapan selalu kami habiskan hampir setengah jam, namun
kali ini beda.
Saya yang terlihat tidak bersemangat menjawab panggilan dan Papa yang juga tidak
bertanya alasan hanya menyegerakan pembicaraan...
Ah,
andai saja bisa,, ingin sekali berkata “Ananda sedang tidak baik-baik saja, Pa...”
Melewati
koridor-koridor kampus dan masih terlihat aktivitas dan kesibukan para
mahasiswa malam hari.
Ah, jadi
rindu masa-masa itu...
Rindu masa-masa mengejar waktu,,
Pengumpulan
tugas, laporan, LPJ organisasi, dan semua hal yang mencirikan aktivitas
mahasiswaku.
Tapi
saat ini, tanpa ada tugas, tanpa ada laporan, tanpa ada kegiatan,
Hanya
dituntut fokus untuk menyelesaikan karya yang akan mengakhiri status
mahasiswaku.
Namun
tak adanya batas waktu dalam karya ini membuatku terlalu banyak memberi celah
toleransi terhadap diri sendiri...
Bahkan
aku tak dapat menenggatkan waktu untuk diriku sendiri...
Bahkan
tak dapat menciptakan fokusku sendiri...
Maaf,,
maaf ku untuk waktu,, yang selalu kusadari telah Aku sia-sia kan...
Sabtu, 31 Desember 2011
Resolusi Tahun Baru
31 Desember 2011
Aku menatap miris pada
kalender di depanku. Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2011 dan esok
adalah hari baru di tahun berikutnya. Sudah setahun aku melewati hari-hari
masih dengan kebingungan. Tak ada perubahan dalam diri dan sesuatu yang
kuhasilkan tahun ini. Aku masih gamang menentukan tujuan hidupku. Ingin seperti
apa dan bagaimana. Tepat tengah malam setahun lalu, sebelum jarum jam
berdentang 12 kali, Aku menuliskan harapan-harapan dan resolusi untuk tahun
ini. Salah satunya adalah mengajar dan menerbitkan buku.
Aku memang memiliki cita-cita
yang (kata orang-orang) tergolong sederhana : Guru TK dan Penulis. Meski sempat
ditertawakan (karena menurut mereka, cita-cita itu harusnya setinggi langit,
bukan tugas ‘mulia’ seperti itu) tapi aku yakin dengan keinginanku. Sebab
bagiku cita-cita adalah impian yang harus aku gapai dan aku wujudkan. Untuk apa
mempunyai cita-cita setinggi langit jika kita tak mampu mencapainya dan malah
jatuh pada dasar bumi yang serendah-rendahnya. Itu kalimat ungkapan dan
pembelaanku setiap ditanyakan alasan mengapa aku memiliki cita-cita sesederhana
itu.
Langganan:
Postingan (Atom)

